Kamis, 30 Mei 2013

Kelulusan SMA



Oke men dan women yang kampret sekali :p kali ini kita akan ngebahas tentang kelulusan SMA, banyak kejadian, bencana, dan musibah yang terjadi saat itu, semua di awali dari kesenangan dan di akhiri dengan kenyesekan :D oke mari kita mulai *bunyi terompet*
1.    Coret-coretan baju
Gue paling gak ngerti dengan system coret mencoret dengan pewarna saat pelulusan tersebut, mereka merayakan kelulusan SMA mereka dengan penuh ke kampretan, coba deh kalau seragam itu kalian sumbangkan  ke tetangga yang membutuhkan *ciyeeeee gue bijak men B-)*
Hahaha apakah kalian merasa bangga dengan lulus SMA? Ingat KTI dan skripsi begoo, itu lebih susah daripada ujian SMA, selamat menanti aja deh, gue do’ain sukses :p

2.     Perpisahan
Ini kenyataan yang harus kita terima saat pelulusan, teman, guru, tukang kantin, satpam, tukang kebun, tukang bakso, pokoknya semua tukang :D harus kita tinggalkan demi mencapai cita-cita kita *ciyaaaahh kayak punya cita-cita aja lo :p* perpisahan emang sedih men, tapi yang paling sedih itu ketika kita terjebak dalam status pacaran dan harus berpisah karena tempat kuliah masing-masing berbeda, banyak yang gue lihan jerit-jerit, salto belakang, lompat dari atap sekolah, dan masih banyakn lagi karena harus menerima pahitnya LDR *suiitttt suiittttt :p* untung gue jomblo pas waktu itu, hhahahhahahaahah HIDUP JOMBLOOOOOOO!!!! J

3.    Putus / LDR?
Nah, pilihan ini merupaka pilihan yang sangat sulit bagi siswa yang baru lulus, pilihannya ada 2 men, putus atau LDR? Hhahaha ini pilihan yang rumit menurut gue, apalagi fikiran anak-anak alay tersebut masih labil, gue sempat mendengar pembicaraan 2 anak SMA yang mau pelulusan, lihatlah!! DEMII TU-HAAAAANNN!!!!!!!!

“Tuminah : yaah, gimana nih kelanjutan cinta kita? Aku gak sanggup LDR, aku gak bias LDR, aku gak bias jauh dari kamu yah.. *fikiran gue masih bersih*
Narto : aku juga bingung bunda, aku harus kuliah keluar kota, mama nyuruh kuliah jauh, dia udah muak liat muka saya, dia jijik bun, aku akan pergi sjaa ya bunda *tiba tiba gue banting kursi ke cowo tersebut*
Ternyata kata “yah” tadi itu singkatan dari ayah *tiba-tiba telinga gue keluar ingus* DASAR REMAJA ALAAAAYYYY #KAMPRETTTTT!!!
Oke kita lanjut yahh, sabar ndraaaa, sabarr, hidup ini emang keras *berusaha menenangkan diri*
Tuminah : ya udah yah, kita putus aja, aku gak yakin kalau aku gak bakalan selingkuh kalau jauh dari kamu, masih banyak yang lebih ganteng dari kamu! PERGI KAMUUUU!!
Narto : *nangis jejeritan* *guling-guling di tanah* baiklaaaah, aku akan pergi “kemudian cowo tersebut pergi dengan ngesot” #laaahh :D

Masih banyak lagi yang terjadi, tapi gue hanya ngambil sedikit aja, lucu gak lucu silahkan ketawa, kalau gak ketawa gue jamin itu tulisan pasti kagak lucu..

Yuuukkkk mariii cyiiiiiiiint *make up*

Ciri-ciri sistem perpacaran yang alay

 Ciri-ciri sistem perpacaran yang alay

Di belantara dunia yang kampret ini terlalu banyak keALAYan yang di ciptakan oleh remaja-remaja terkutuk di republik kampret ini. Dari sekian banyak keALAYan tersebut, gue mau ngebahas tentang system perpacaran yang alay versi playboy gagal ini :D
1.        Masa PDKT
Dalam fase perpacaran ada yang namanya PDKT, apakah kalian tahu apa itu PDKT? Yaa benar, ”Proses Dalam Kealayan Tinggi” *jiaaaahhh gue ngasal :p
Banyak kejiji’an yang muncul dari PDKT ini, apalagi kalau mereka sudah bermodus d twitter, ohhhh NOOOO.
Yang pacaranpun gak kalah alay soal twitter, mereka memanfaatkan BIO twitter untuk mengukir nama pasangan mereka, kasus yang paling sering muncul sih kek gini
PAIJO
Menurut gue itu alay banget #khoek
2.       Panggilan sayang
Mungkin kalian sering mendengar atau bahkan kalian sendiri yang mengalaminya , yaitu pacaran dengan  menggunakan pangiilan ayah dan bunda,  setiap gue ngesusupo *versi poso :D* sms di hape temen gue, gue pernah dapet sms yang kek begini
Narto : bunda, lagi ngapain ? udah makan belum? Ayah kangen nih sama bunda, pengen nenen sama bunda, aduhhh titit ayah berdiri nih bun” *yang titit dan nenen gue yang nambahin :p*
            Kemudian si c ewe bales
“Tuminah : ini lagi kasih mandi singa sama harimau peliharaan yah, iyaa tadi bunda udah makan titit ular, sama bunda juga kangen sama ayah
Sebagai jomblo terhormat, gue merasa jijik dengan panggilan ayah bunda itu, dia merusak mata dan fikiran gue
     Gue punya cerita nih, beberapa waktu lalu ada sms nyasar ke gue, dan kampretnya, sms yang nyasar itu sms orang pacaran yang panggil ayah bunda *khoek* *muntah* *mati*

ini nih, sms yang nyasar ke gue, jangan pernah berfikir kalau itu gue yaa..

Rabu, 15 Mei 2013

Prosedur Pemasangan dan pelepasan infus

PROSEDUR PEMASANGAN INFUS


Definisi
            Terapi intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan, elektrolit, obat intravena dan nutrisi parenteral ke dalam tubuh melalui intravena. Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa. Tindakan ini merupakan metode efektif dan efisien dalam memberikan suplai cairan ke dalam kompartemen intravaskuler. Terapi intravena dilakukan berdasarkan order dokter dan perawat bertanggung jawab dalam pemeliharaan terapi yang dilakukan. Pemilihan pemasangan terapi intravena didasarkan pada beberapa faktor, yaitu tujuan dan lamanya terapi, diagnosa pasien, usia, riwayat kesehatan dan kondisi vena pasien. Apabila pemberian terapi intravena dibutuhkan dan diprogramkan oleh dokter, maka perawat harus mengidentifikasi larutan yang benar, peralatan dan prosedur yang dibutuhkan serta mengatur dan mempertahankan sistem.


Tujuan Utama Terapi Intravena:
1.      Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
2.       Memberikan obat-obatan dan kemoterapi
3.      Transfusi darah dan produk darah
4.      Memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi

A.    Persiapan
1.      Persiapan Klien
·         Cek perencanaan Keperawatan klien
·         Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

2. Persiapan Alat
·         Standar infus
·         Ciran infus dan infus set sesuai kebutuhan
·         Jarum / wings needle / abocath sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
·         Bidai / alas infus
·         Perlak dan torniquet
·         Plester dan gunting
·         Bengkok
·         Sarung tangan bersih
·         Kassa seteril
·         Kapas alkohol dalam tempatnya
·         Bethadine dalam tempatnya
B.     Pelaksanaan
·         Perawat cuci tangan
·         Memberitahu tindakan yang akan dilakukan dan pasang sampiran
·         Mengisis selang infus
·         Membuka plastik infus set dengan benar
·         Tetap melindungi ujung selang seteril
·         Menggantungkan infus set dengan cairan infus dengan posisi cairan infus mengarah keatas
·         Menggantung cairan infus di standar cairan infus
·         Mengisi kompartemen infus set dengan cara menekan ( tapi jangan sampai terendam )
·          Mengisi selang infus dengan cairan yang benar
·         Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan keseterilan
·         Cek adanya udara dalam selang
·         Pakai sarung tangan bersih bila perlu
·         Memilih posisi yang tepat untuk memasang infus
·         Meletakan perlak dan pengalas dibawah bagian yang akan dipungsi
·         Memilih vena yang tepat dan benar
·         Memasang torniquet
·         Desinfeksi vena dengan tekhnik yang benar dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke        bawah sekali hapus
·         Buka kateter ( abocath ) dan periksa apakah ada kerusakan
·         Menusukan kateter / abocath pada vena yang telah dipilih dengan apa arah dari arah samping
·         Memperhatikan adanya darah dalam kompartemen darah dalam kateter, bila ada maka mandrin sedikit demi sedikit ditarik keluar sambil kateter dimasukan perlahan-lahan
·         Torniquet dicabut
·         Menyambungkan dengan ujung selang yang telah terlebih dahulu dikeluarkan cairannya sedikit, dan sambil dibiarkan menetes sedikit
·         Memberi plester pada ujung plastik kateter / abocath tapi tidak menyentuh area penusukan untuk fiksasi
·         Membalut dengan kassa bethadine seteril dan menutupnya dengan kassa seteril kering
·         Memberi plester dengan benar dan mempertahankan keamanan kateter / abocath agar tidak tercabut
·         Mengatur tetasan infus sesuai dengan kebutuhan klien
·         Alat-alat dibereskan dan perhatikan respon klien
·         Perawat cuci tangan


·         Catat tindakan yang dilakukan
C.     Evaluasi
Perhatikan kelancaran infus, dan perhatikian juga respon klien terhadap pemberian tindakan

D.    Dokumentasi
Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap pemasangan infus, cairan dan tetesan yang diberikan, nomor abocath, vena yang dipasang, dan perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan.












MELEPAS INFUS
A.  PERSIAPAN ALAT
1.      Perlak dan pengalas
2.      Sarung tangan
3.      Kapas alkohol
4.      Plester
5.      Gunting plester
6.      Bengkok
B.  PROSEDUR
1.      Memberitahu pasien tindakan yang akan dilakukan
2.      Mendekatkan alat
3.      Mencuci tangan
4.      Memasang perlak dan pengalas
5.      Memakai sarung tangan
6.      Membasahi plester yang melekat pada kulit dengan kapas alkohol
7.      Melepas plester dan kassa dari kulit
8.      Menekan tempat tusukan dengan kapas alkohol dan mencabut infus pelan-pelan
9.      Menekan kapas alkohol dengan plester
10.  Membereskan alat dan merapikan pasien
11.  Melepas sarung tangan
12.  Mencuci tangan
13.  Mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan







STANDAR  OPRASIONAL  PROSEDUR

1.    Pengertian  : Pemberian darah  produk  dan  monitor pasien
2.    Tujuan        : Peningkatan  kadar  darah  atau  produk  darah  dalam
3.    Kebijakan  :           1. Ada  asuransi   tertulis  dari  dokter
                                    2. Hasil  laboratorium  HB dibawah  normal
4.    Prosedur
A.  Fase  Prainteraksi
1.    Mengecek  program  terapi
2.    Mencuci  tangan
3.    Menyiapkan alat
o  1 sol tranfusi  darah  dengan  blood  filter
o  Ciran isotonik  (Nacl  0,9%)
o  produk  darah
o  Obat-obatan  sesuai  dengan  program  medic
o  Handscoen  disposable
o  Tensimeter  dan  thermometer
    
B.  Fase  orientasi
1.    Memberikan  salam  teraupelik
2.    Menjelaskan  tujuan  dan  prosedur  tindakan ,tanda  dan  gejala  reaksi  tranfusi
3.    Menayakan  persetujuan  / kesiapan  pasien
4.    Minta  tanda  tangan  persetujuan / informan  konsen
C.   Fase  kerja 
1.    Periksa  produk  darah  yang  di  siapkan, golongan darah dan kesusaaian cross math, jumlah darah dan nomor kantong , masa berlaku.
2.    Menggunakan hanskun
3.    Pemasangan system infus set dengan filter yang tapat terhadap produk darah
4.    Memasang cairan dengan cairan isotonic ( Nacl 0,9%)
5.    Hindari tranfusi darah lebih dari satu unit darah atau produk darah pada satu waktu, kecuali diwajibkan oleh kondisi pasien.
6.    Monitor temapat Iv terhadap tanda dan gejala dari infiltrasi, phlebritis dan infeksi local.
7.     Monitor tanda-tanda vital (pada awal, sepanjang dan setelah tranfusi)
8.     Berikan injeksi anti histamine bila perlu.
9.    Ganti cairan Nacl 0,9 % dengan produk yang tersedia.
10.               Monitor ada tidaknya reaksi alergi terhadap pemasangan infuse Monitor kecepatan aliran tranfusi
11.               Jangan memberikan medikasi IV atau cairan lain kecuali isotonic dalam darah atau produk
12.               Ganti larutan Nacl 0,9% ketika tranfusi telah lengakap/selesai

D.  Fase Terminasi
1.    Evaluasi respon klien terhadap tindakan yang dilakukan
2.    Simpulkan hasil kegiatan
3.    Kontrak waktu pertemuan selanjutnya.
4.     Mengakhiri kegiatan dengan baik
5.    Membersihkan peralatan
6.    Buka sarung tangan dan cuci tangan